Awal mula perjalanan gue mencoba Kopi Indonesia ngga langsung nemu , kebiasaan gue pas di SMK jarang banget nongkrong di Cafe , gue lebih sering menghabiskan waktu buat latihan Taekwondo atau ngabisin waktu di depan komputer , ujung-ujungnya nyeruput kopi sachet lagi , Sekalinya gue nyoba kopi lain ya Espresso lagi.
Suatu hari waktu gue baru pulang dari pesta pernikahan temen gue , beberapa temen gue mau nyoba tempat nongkrong baru di daerah Kepodang , sebuah Cafe yang bergaya modern , dengan meja dan kursi kayu yang di vernis mengkilat membuat cafe itu makin terlihat nyaman buat menenangkan pikiran , ditambah beberapa gambar doodle di tembok yang bikin suasana makin "kekinian" . Di daftar menunya gue ngeliat beberapa jenis kopi dari berbagai wilayah , ada Aceh , Bali , Papua , dan sebagainya , Gue yang penasaran banget mau ngerasain kopi di cafe ini langsung memesan kopi Aceh , entah Aceh mana , karena yang gue tau di Aceh tentang kopi cuman Gayo , yang buruk dari Cafe ini adalah dapur disini ngga Open Kitchen , bikin gue agak ragu apakah kopi ini dari biji kopi langsung atau dari kopi saset , tapi agak lama juga penyajiannya , gue yang waktu itu ngga tau proses nyeduh kopi gue cuman posthink aja , mungkin kopinya di tanem dulu , waktu kopi itu dateng , gue langsung nyium aromanya , yup seperti kopi pada umumnya , gue coba sedikit kopi itu , yang gue rasa adalah kopi biasa + sedikit asam , gue yang curiga kalo ini kopi sachet langsung pesen kopi lagi , yaitu kopi Papua , dan yang gue rasakan sama , gue khawatir ini lidah gue yang salah .
Gue juga nyoba kopi di daerah Pondok Cilegon Indah , gue tau kedai kopi ini dari beberapa checkin temen-temen gue di path kalo udah malem hari , gue coba kopi yang sama yaitu kopi Aceh entah Aceh mana lagi ini , kedai yang ngga terlalu besar dan dapur yang semi Open Kitchen (karena cuman proses nyeduh kopinya aja yang di liatin) , not bad lah buat tempat nyari inspirasi , di tambah ada semacam jendela dengan gaya Sumatera bikin serasa kita ngga di Cilegon . Cara penyeduhannya juga kembali ke tradisional , memakai saringan (gue gue liat sih kayak jaring buat nangkep ubur-ubur di kartun Spongebob)tapi gue ngga liat proses menghaluskan biji kopi (grinding) , hasil kopi yang dapet itu lumayan soft tanpa ampas , dan juga yang ini asemnya sedikit lebih kuat , tapi rasa awal yang gue dapet tetep sama , alhasil gue kembali lagi ke kopi sachet karena mindset gue tentang kopi ,kopi yaitu ngga ada bedanya.
Bulan februari lalu adalah bulan di mana gue nyobain kopi yang sebenarnya , gue liat checkin path lagi temen gue , mereka ngopi di daerah Grand Cilegon Residence , nama tempatnya Buun Koeffie Kedai Kopi Bakar , gue liat-liat di akun path kedai ini dan dapet lokasinyanya , gue ngajak temen gue buat kesana , lokasi di pathnya langsung gue klik dan sambungin ke google maps , perjalanan ngga terlalu ribet karena emang tempatnya gampang , saat gue sampai di kedai itu jam 11 malam , suasanya waktu itu hujan , cuman ada 3 orang disitu , yang pertama seorang laki-laki yang berambut gondrong yang sedang asik memainkan laptonya namanya Bayu , yang kedua seorang laki-laki kurus dengan rambut pendek berponi Arip namanya , dan yang terakhir seorang laki-laki yang agak gemuk dan memakai kacamata , dia cuman cengengesan sambil melihat Handphonenya terkadang gingsulnya terihat jelas , Faisol namanya . Gue nanya apakah kedai ini masih buka , dan gue sadar itu adalah pertanyaan tanpa jawaban.
(bersambung)

No comments:
Post a Comment